OJK Sultra Perkuat Ekosistem Keuangan Inklusif melalui Kampung Nelayan dan Pengembangan Kakao

KONAWE, Lensainformasi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus memperkuat ekosistem keuangan inklusif melalui pengembangan Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Desa Sorue Jaya, Kabupaten Konawe, serta program penguatan komoditas kakao.

Hal tersebut disampaikan Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, saat menggelar media briefingbersama puluhan jurnalis di Kabupaten Konawe, Kamis (30/7/2026).

Bacaan Lainnya

Dalam paparannya, Bismi menjelaskan bahwa pada program EKI-KNMP Desa Sorue Jaya, Bank Sultramenargetkan penyaluran kredit kepada nelayan sebesar Rp983,29 miliar dengan realisasi mencapai 92,06 persen.

Sementara itu, BRI telah menyalurkan EKI Mandiri di KNMP Sorue Jaya sebesar Rp1,35 miliar. Selain itu, program PMP-LC (Edisent) memberikan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM dengan plafon maksimal Rp5 juta.

Pada sektor perbankan daerah, BPR Konawe Selatan telah menyalurkan pembiayaan kepada 216 debitur dengan rata-rata pembiayaan sebesar Rp1,26 juta per orang.

OJK juga menyebut BNI menjalankan kolaborasi Program Kredit Berwibawa bagi pelaku usaha setelah panen bersama Pemerintah Daerah Konawe, BGN/CL, dan sejumlah mitra lainnya.

Selain sektor perikanan, OJK turut mendorong pengembangan ekonomi daerah berbasis komoditas kakao di Kabupaten Konawe Selatan.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa pada 2025 terdapat 50 petani yang mengelola lahan seluas 55 hektare dengan nilai pembiayaan mencapai Rp5,5 miliar bersama perbankan dan offtaker.

OJK juga mencatat kegiatan Farmer Coaching Development (FCD) dari Bantarani Fiber Ebony telah dilaksanakan pada 25 Mei 2025 dengan melibatkan kelompok tani kakao sebagai peserta.

Di sisi lain, kebutuhan bibit lima klon unggul kakao berbasis Sulawesi diperkirakan mencapai 52.200 ton dengan potensi areal seluas 78.900 hektare. Adapun program nutrisi lahan telah menjangkau 78.784 hektare melalui kerja sama petani kakao dalam ekosistem berkelanjutan bersama usaha kecil dan offtaker.

Menurut Bismi, penguatan akses keuangan serta kolaborasi multipihak menjadi bagian dari upaya membangun kampung nelayan dan komoditas kakao yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di Bumi Anoa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *