Hilirisasi Jadi Fokus Seminar Nasional Peternakan UHO, Kementan Dorong Industri Terintegrasi Hulu-Hilir

KENDARI, Lensainformasi.com – Hilirisasi produk peternakan menjadi salah satu fokus utama dalam Seminar Nasional Inovasi dan Teknologi Peternakan (INTEK) III yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo (UHO) di salah satu hotel di Kendari, Sabtu (1/8/2026).

Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Musyawarah Nasional Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) dan program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan 37 perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional, Nasrullah, mengatakan hilirisasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk peternakan sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden.

Menurutnya, pengolahan hasil peternakan menjadi produk siap konsumsi akan meningkatkan efisiensi distribusi dibandingkan pengiriman ternak hidup yang membutuhkan biaya logistik lebih besar serta berisiko mengalami penyusutan bobot maupun kematian selama perjalanan.

“Kalau sudah diolah menjadi daging potongan, sosis, atau produk lainnya, distribusinya menjadi lebih efisien. Susu dan ayam juga demikian,” ujar Nasrullah.

Ia menjelaskan, Kementerian Pertanian mulai menjalankan proyek percontohan hilirisasi peternakan yang terintegrasi di empat provinsi, yakni Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo. Kawasan tersebut akan dilengkapi dengan pembibitan, pabrik pakan, rumah potong, hingga industri pengolahan dalam satu sistem yang saling terhubung.

Nasrullah juga mengungkapkan produksi susu nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan dalam negeri, sedangkan produksi daging sapi berkisar 40 hingga 50 persen. Kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah membuka peluang investasi bagi pengembangan peternakan sapi potong dan sapi perah, termasuk sektor hilirnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan UHO, Ali Bain, mengatakan seminar INTEK III menjadi wadah pertukaran gagasan dan inovasi di bidang peternakan, sekaligus memperkuat kolaborasi antarlembaga pendidikan tinggi melalui Musyawarah Nasional FPPTPI.

Selain seminar, kegiatan juga diisi program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan para dekan dan mitra Fakultas Peternakan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Program tersebut telah dilaksanakan sejak 2019 di sejumlah desa di Sulawesi Tenggara dengan fokus pada pemuliaan ternak, teknologi pakan, penyediaan bibit, hingga integrasi peternakan dengan sektor pertanian, perkebunan sawit, dan kakao.

“Harapannya ada transfer ilmu dan hasil riset kepada masyarakat yang mengembangkan usaha peternakan,” kata Ali Bain.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara, Muhammad Taufik, menyampaikan kebutuhan daging dan telur di Sulawesi Tenggara saat ini telah mencukupi untuk konsumsi daerah. Meski demikian, peningkatan populasi ternak besar masih menjadi perhatian pemerintah daerah.

Salah satu upaya yang terus didorong adalah pelaksanaan program inseminasi buatan (IB). Menurut Taufik, Sulawesi Tenggara kini memiliki tenaga inseminator yang memadai, bahkan sapi bantuan Presiden untuk hewan kurban tahun ini berasal dari hasil inseminasi buatan oleh inseminator lokal.

Ia menambahkan, program IB juga berperan dalam menekan risiko penyebaran penyakit hewan menular strategis seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) serta jembrana karena mengurangi perpindahan ternak antarwilayah.

Selain itu, pemerintah telah menyalurkan vaksin PMK secara gratis ke 24 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara. Berdasarkan pemantauan pemerintah daerah, kasus PMK di Sultra saat ini cenderung menurun seiring meningkatnya pengetahuan peternak dalam melakukan penanganan dini terhadap penyakit tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *