KONAWE, Lensainformasi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat Kota Kendari masih menjadi pusat intermediasi perbankan di Sulawesi Tenggara dengan nilai kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) terbesar hingga Juni 2026.
Hal tersebut disampaikan Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, saat media briefing bersama puluhan jurnalis di Kabupaten Konawe, Kamis (30/7/2026).
Bismi menjelaskan, Kota Kendari mencatat penyaluran kredit sebesar Rp23,23 triliun dengan DPK mencapai Rp21,08 triliun. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kolaka, Kota Baubau, Kabupaten Muna, dan Kabupaten Wakatobi.
Berdasarkan data OJK, lima sektor ekonomi menyerap 83,78 persen dari total kredit perbankan di Sulawesi Tenggara.
Sektor rumah tangga menjadi penyerap kredit terbesar dengan porsi 45,73 persen atau senilai Rp24,97 triliun. Selanjutnya sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 14,97 persen atau Rp8,17 triliun, industri pengolahan 8,96 persen atau Rp4,89 triliun, pertanian dan perikanan 8,59 persenatau Rp4,69 triliun, serta pertambangan dan penggalian 5,53 persen atau Rp3,02 triliun.
Dari sisi kualitas kredit, OJK mencatat rasio Non-Performing Loan (NPL) tertinggi secara persentase berada di Kabupaten Buton sebesar 3,07 persen. Sementara secara nominal, kredit bermasalah terbesar tercatat di Kota Kendari sebesar Rp428,72 miliar, sejalan dengan besarnya portofolio kredit di wilayah tersebut.
Dalam kesempatan itu, Bismi juga menyampaikan bahwa kredit syariah di Sultra mencapai Rp5,14 triliun atau tumbuh 22,08 persen secara tahunan. Sementara aset perbankan syariah mencapai Rp5,25 triliun, meningkat 20,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kredit investasi juga tercatat sebesar Rp11,09 triliun atau tumbuh 18,52 persen, sedangkan kredit UMKM mencapai Rp16,75 triliun dengan pertumbuhan 2,36 persen secara tahunan,” pungkasnya.












