Menuju Imunisasi Rutin Lengkap, Dinkes Konawe Selatan Siap Implementasikan Vaksin Heksavalen 2026

KONAWE SELATAN, Lensainformasi.com – Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan melalui Dinas Kesehatan menggelar Asistensi Teknis Pelaksanaan Imunisasi Heksavalen dan Readiness Assessment sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan imunisasi heksavalen tahun 2026.

Kegiatan ini berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan, Selasa, 16 Desember 2025.

Bacaan Lainnya

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Tim Subdirektorat Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, jajaran struktural Dinas Kesehatan Konawe Selatan, para Kepala Puskesmas se-Kabupaten Konawe Selatan, serta seluruh penanggung jawab program imunisasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan, Nurlita Jaya AS, S.Sos., M.Kes, dalam arahannya menyampaikan imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dan efisien dalam mencegah kematian serta kecacatan pada anak.

“Imunisasi bukan sekadar layanan kesehatan, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Setiap anak berhak tumbuh sehat dan terlindungi dari penyakit berbahaya,” tegas Nurlita.

Ia mengungkapkan, saat ini program imunisasi menghadapi sejumlah tantangan strategis, mulai dari penurunan dan ketimpangan cakupan imunisasi pascapandemi, meningkatnya keraguan masyarakat terhadap vaksin, hingga masih ditemukannya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, tetanus, dan hepatitis B.

Sejalan dengan kebijakan nasional, tahun 2026 menjadi momentum penting penguatan imunisasi rutin lengkap melalui implementasi imunisasi heksavalen, yakni vaksin kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap enam penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, poliomielitis, dan infeksi Haemophilus influenzae tipe b (Hib).

Menurut Nurlita, kebijakan imunisasi tahun 2026 difokuskan pada peningkatan kualitas dan efisiensi layanan imunisasi, penguatan cakupan imunisasi rutin lengkap dan tepat waktu, penguatan surveilans serta sistem pencatatan dan pelaporan, komunikasi risiko yang efektif, serta kolaborasi lintas sektor.

“Dengan imunisasi heksavalen, anak-anak akan menerima lebih sedikit suntikan, orang tua lebih mudah mematuhi jadwal imunisasi, dan sistem pelayanan kesehatan menjadi lebih efektif,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nurlita juga menekankan pentingnya kesiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi potensi keraguan masyarakat.

Ia meminta seluruh jajaran puskesmas dan penanggung jawab imunisasi untuk mengedepankan komunikasi yang empatik, berbasis bukti ilmiah, serta melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam edukasi imunisasi.

“Kita harus menjadi agen kepercayaan masyarakat. Keberhasilan imunisasi sangat ditentukan oleh kepercayaan masyarakat kepada tenaga kesehatan dan pemerintah,” tambahnya.

Melalui asistensi teknis dan penilaian kesiapan ini, Nurlita berharap seluruh fasilitas pelayanan kesehatan memiliki pemahaman yang sama, komitmen yang kuat, dan kesiapan optimal dalam menyukseskan pelaksanaan imunisasi heksavalen tahun 2026.

“Imunisasi harus menjadi gerakan bersama demi melahirkan generasi Konawe Selatan yang sehat, kuat, dan berkualitas,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *