KENDARI, Lensainformasi.com – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Sulawesi Tenggara 2024 mencapai puncaknya dengan gelaran malam meriah di salah satu hotel di Kota Kendari pada Jumat, 22 November 2024.
Acara ini menjadi wujud apresiasi terhadap upaya melestarikan bahasa ibu sebagai bagian penting dari kekayaan budaya daerah.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara (KBST) dengan melibatkan berbagai pihak sebagai langkah nyata dalam revitalisasi bahasa daerah.
Kepala KBST, Uniawati, dalam sambutannya menekankan pentingnya upaya sistematis dan berkelanjutan untuk melindungi bahasa ibu.
“Kami merujuk pada prinsip-prinsip Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 42 Ayat 1, 2, dan 3, yang menyatakan bahwa perlindungan bahasa dan sastra daerah dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan oleh pemerintah daerah di bawah koordinasi lembaga kebahasaan, yaitu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,” jelas Uniawati.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa meskipun upaya ini mungkin tidak memberikan hasil ekonomi secara langsung, hal ini adalah perjuangan penting untuk menjaga kekayaan hati bangsa.
“Gerakan ini menyentuh jiwa, perasaan, semangat, dan hakikat bangsa. Bahasa ibu adalah penghubung masa lalu, masa kini, dan masa depan kita,” tambahnya.
Malam puncak FTBI 2024 juga menjadi ajang inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai bahasa ibu mereka.
“Kami berharap FTBI dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan bahasa ibu mereka, karena di sanalah jati diri kita sebagai bangsa yang kaya budaya,” tutup Uniawati.
Acara malam puncak dimeriahkan dengan penampilan komedi oleh Ari Kriting dan musikalisasi puisi, yang semakin menambah kemeriahan suasana. Pada penghujung acara, diumumkan para juara lomba pidato, pembacaan puisi, dan cerdas cermat budaya.
Piala dan penghargaan diserahkan langsung oleh perwakilan Balai Bahasa Sulawesi Tenggara.
FTBI 2024 membuktikan bahwa bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya yang harus terus dijaga sebagai warisan bangsa.











