Kadin Sultra Minta Pengusaha Lokal Kembangkan Dapur Makan Bergizi Gratis

KENDARI, Lensainformasi.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Tenggara (Sultra) menegaskan komitmennya dalam mendukung program makan bergizi gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Ketua Kadin Sultra, Anton Timbang, mengatakan bahwa program ini bukan hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan bergizi, tetapi juga berdampak besar bagi perekonomian masyarakat.

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan bahwa dengan adanya program makan bergizi gratis, kebutuhan pangan di Kota Kendari mengalami peningkatan signifikan.

Salah satu contohnya adalah konsumsi telur yang awalnya sekitar 10 juta butir per bulan, kini meningkat menjadi 20 juta butir per bulan.

“Kita hanya mampu memproduksi sekitar 1,5 juta butir telur per bulan, sementara sisanya disuplai dari daerah lain seperti Sinjai, Sidrap, dan Gorontalo,” ujar Anton Timbang kepada awak media, Sabtu (22/3/2025).

“Namun, dengan berjalannya program makan bergizi gratis di daerah-daerah tersebut, mereka juga akan kesulitan memenuhi permintaan di luar wilayahnya. Oleh karena itu, kita harus mendorong peningkatan produksi lokal,” sambungnya.

Lebih lanjut, Anton Timbang mengajak para pengusaha dan pengurus Kadin untuk berpartisipasi dalam pembangunan dapur makan bergizi mandiri.

Ia menekankan bahwa anggaran yang disediakan pemerintah untuk program ini mencapai ratusan triliun rupiah dan seluruh pembayaran dilakukan secara tunai tanpa sistem hutang.

“Kita harus melihat ini sebagai peluang. Dengan membangun dapur mandiri, kita tidak hanya membantu masyarakat mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” katanya.

Saat ini, Sulawesi Tenggara diperkirakan membutuhkan sekitar 450 dapur makan bergizi untuk melayani 200.000 penerima manfaat.

Namun, hingga kini baru terdapat lima dapur yang beroperasi. Anton Timbang berencana untuk mensurvei rumah makan yang kurang aktif agar dapat dialihfungsikan menjadi dapur makan bergizi.

“Daripada warung makan yang sepi harus tutup, lebih baik kita alihfungsikan menjadi dapur makan bergizi. Program ini sangat menguntungkan, baik bagi masyarakat maupun pelaku usaha,” tuturnya.

Anton Timbang juga mengungkapkan potensi besar dalam program ini, terutama jika para pengusaha ikut serta dalam penyediaan bahan baku, seperti peternakan ayam petelur dan pertanian sayur-mayur.

Menurutnya, di beberapa daerah di Jawa, keuntungan yang didapat dari program ini bisa mencapai hampir Rp1 miliar per bulan.

“Dengan efisiensi anggaran seperti ini, mari kita kembali ke sektor pertanian dan peternakan untuk mendukung keberlanjutan program makan bergizi gratis,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *