Penulis : Siti Mega Hatinatun, Pembina Teknis Perbendaharaan Negara Terampil KPPN Kendari
KENDARI, Lensainformasi.com – Ditengah tantangan ekonomi global yang bergejolak, ekonomi regional tetap membuktikan ketangguhannya dengan mencetak pertumbuhan ekonomi yang stabil dan impresif. Ekonomi di Sulawesi Tenggara (Sultra) sampai dengan Semester I tahun 2025 telah tumbuh dari periode sebelumnya.
Pertumbuhan ini mencapai 5,89% (y-o-y) jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024. Laju pertumbuhan ekonomi Sultra menunjukkan akselerasi pada triwulan kedua, melampaui triwulan pertama tahun 2025 mencapai sebesar sebesar 3,17% (q-o-q). Pertumbuhan ini didorong oleh tumbuhnya hampir seluruh lapangan usaha,dengan lapangan usaha yang berkontribusi besar padaekonomi Sulta meliputi pertanian (24,57%), pertambangan(20,78%), perdagangan (12,66%), konstruksi (10,61%), dan industri pengolahan (10,19%).
Sedangkan lapangan usaha yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah industri pengolahan tumbuh sebesar 18,07%, pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya aktivitas industri makanan dan minuman saat hari raya dan adanya program prioritas Presiden Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selanjutnya lapangan usaha yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah akomodasi dan makan minum(11,38%), hal ini didukung oleh meningkatnya aktivitas usahaf&b (food and beverages). Terakhir, lapangan usaha yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu pertambangan(8,99%) akibat meningkatnya aktivitas pertambangan barusejalan dengan dibukanya izin usaha pertambangan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Penyaluran Pembiayaan UMKM di Sultra sampai dengan semester I tahun 2025 tumbuh dengan cukup baik, namundengan catatan untuk pembiayaan KUR mengalami fluktuasi pada tahun 2025 jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya pada 2023 dan 2024. Penyaluran pembiayaan UMKM dapat menjadi penggerak (booster) bagi perekonomian daerah, khusunya di Sultra.
Daya belimasyarakat tetap dijaga untuk menggerakkan perekonomianlokal yang inklusif dan berkelanjutan. Kebijakan pembiayaanUMKM cukup meringankan beban finansial pelaku usahakarena pembiayaan ini menawarkan kredit murah berbunga rendah. Selain itu pembiayaan UMKM menyasar kepada pelaku usaha yang tidak dapat mengakses perbankan (nonbankable) melalui pembiayaan UMi.
Kinerja Pembiayaan KUR: Berfluktuasi dengan Tren Meningkat
Pembiayaan UMKM memiliki tujuan strategis untukmeningkatkan daya saing UMKM dalam memperluasjangkauan pasar dan kapasitas produksi, mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan lapangan pekerjaan baru, meringankan beban pinjaman dengan subsidi bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan pinjaman komersial, pada akhirnya keberhasilan UMKM dalam mengembangkan usahanya membawa dampak berganda (multiplier effect) bagi pertumbuhan ekonomi regional.
Secara historis penyaluran KUR di Sultra mencatatkan tren yang berfluktuasi sepanjang tahun 2020 s.d 2025 dengan penurunan penyaluran pada tahun 2023. Namun demikian penyaluran ini cenderung memiliki tren yang meningkat. Kinerja penyaluran KUR tertinggi (peak) terjadi pada tahun2022 dengan penyaluran mencapai Rp2.065,09 miliar dengan jumlah debitur mencapai 44.445 debitur.
Sampai dengan semester I Tahun 2025, KUR di Sultra telah disalurkan sebesar Rp1.941,85 miliar terkontraksi 6,83% (y-on-y) dan disalurkan untuk 31,098 debitur.
Jika dilihat berdasarkan penyaluran perwilayah, Kabupaten Kolaka Timur merupakan wilayah denganpenyaluran tertinggi mencapai Rp307,07 miliar untuk 4.494 debitur. Sedangkan Kota Kendari, merupakan wilayah yang menyalurkan KUR terendah sebesar Rp4,82 miliar untuk 45 debitur.
Pembiayaan KUR di Sulawesi Tenggara disalurkan oleh sembilan perbankan dan satu lembaga keuangan bukan bank yaitu PT. Pegadaian Syariah (Grafik 6). Penyaluran KUR terbesar pada Semester I tahun 2025 disalurkan oleh Bank BRI dengan proporsi mencapai 66,18% dari total penyaluran.
Kinerja Pembiayaan UMi: Mencatatkan Kinerja yang Sangat Baik
Pembiayaan UMi merupakan jenis pembiayaan yang ditujukan kepada pelaku usaha yang belum dapat mengakses pembiayaan dari perbankan (nonbankable). Harapannya,UMKM ini dapat mengakses modal yang lebih terjangkau dalam mengembangkan usahanya untuk naik kelas.
Pembiayaan UMi disalurkan melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai operator investasi pemerintah dengan skema langsung ataupun tidak langsung. Pada tahun2025, kinerja penyaluran UMi mencatatkan rekor tertinggi (outperform) sepanjang tahun 2020-2025 mencapai Rp40,55 miliar untuk 8.200 debitur.
Penyaluran ini naik 11,94% dibandingkan dengan penyaluran pada periode yang samatahun 2024. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendukung UMKM untuk menyediakan modal yang terjangkau bagi para pelaku UMKM di lapisan terbawah, selain itu upaya ini merupakan bagian dari inklusi keuangan.
Penyaluran UMi di Sultra disalurkan oleh tiga Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) yaitu Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Bahana Artha Ventura (PT BAV), dan Pegadaian. Sejumlah 85,98% disalurkan oleh PNM sebesarRp34,87 miliar untuk 7.426 debitur. Sisanya, pembiayaan UMi disalurkan oleh PT BAV dan Pegadaian.
Berdasarkan penyaluran perwilayah, Kabupaten Muna mendapatkan penyaluran pembiayaan UMi terbesar mencapai Rp7,05 miliaruntuk 1.464 debitur. Sedangkan Kabupaten Muna Barat menjadi wilayah dengan penyaluran UMi terkecil yaitu Rp731 juta untuk 183 debitur. Sedikitnya jumlah penyaluran ini, diindikasikan oleh akses terhadap lokasi dan minimnya unit layanan menjadi salah satu faktor rendahnya tingkat penyaluran pembiayaan UMi di wilayah tersebut.
Berdasarkan penyaluran pembiayaan KUR dan UMi berdasarkan sektor, masih didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran. Porsi penyaluran KUR pada sektor perdagangan besar dan eceran mencapai 41,08% dari total penyaluran sebesar Rp797,62 miliar untuk 11.413 debitur(Grafik 11). Sedangkan porsi penyaluran UMi yang didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran sebesar95,60% yaitu sebesar Rp38,77 miliar untuk 7.946 debitur(Grafik 12). Jumlah porsi yang besar pada salah satu sektormenggambarkan adanya sebuah ketimpangan penyaluran.
Kesenjangan Sektor Pembiayaan UMKM: Perdagangan Besar dan Eceran Mendominasi
Penyaluran pembiayaan UMKM yang telah disalurkan di Sultra berdasarkan sektornya masih mengalami ketimpangan, akibatnya dominasi pada salah saktu sektor sangat besar yaitu pada sektor perdagangan besar dan eceran. Sedangkan penyaluran pada sektor lainnya masih kecil jika dibandingkan dengan sektor perdagangan besar dan eceran. Hal ini disinyalir oleh jaminan kepastian usaha yang produktif sehingga risiko gagal bayar kemungkinan sangat kecil. Selain itu, sektor inilebih terukur dengan perputaran usahanya dibandingkan sektorlain seperti sektor pertanian, perburuan dan kehutanan maupun industri pengolahan.
Penyaluran KUR pada sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menerima penyaluran sebesar Rp686,67 miliar untuk 12.166 debitur (35,36% dari total penyaluran), sehingga menempati posisi kedua dengan penyaluran tertinggi. Sedangkan penyaluran pembiayaan UMi pada sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar Rp394 juta untuk56 debitur (0,97% dari total penyaluran). Dengan kecilnya penyaluran UMi tersebut, dapat dikatakan bahwa akses pelaku usaha pertanian pada sektor ini sangatlah kecil.
Data yang diperoleh dari BPS menunjukkan bahwa, Nilai Tukar Petani (NTP) sepanjang tahun 2024 sampai dengan semester I tahun 2025 cenderung berfluktuasi pada kisaran107 sampai dengan 120. Pada Juni 2025, NTP di Sultra mencapai 110,70 yang mengalami penurunan dibandingkan NTP bulan Mei 2025 yang mencapai 113,94. Pada tahun 2025, besaran NTP memiliki tren penurunan. Namun demikian, penurunan ini masih mencatatkan hal positif dimana indeks harga yang diterima petani masih lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani walaupun memang jumlahnya semakin turun pada tahun 2025.
Walaupun sektor pertanian berkontribusi besar terhadap perekonomian, trenpenurunan NTP dapat mengindikasikan adanya perlambatan pertumbuhan di sektor tersebut. Ketika sektor utama mengalami ketidakpastian, pelaku usaha di dalamnya, termasuk UMKM akan berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial.
Pengembangan Sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan
Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan merupakan sektor unggulan di Sultra yang memiliki potensi besar untuk menjadi target penyaluran UMKM. Kontribusi yang besar sektor ini pada struktur perekonomian Sultra selayaknya dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu perlu dikembangkan ekosistem keuangan yang inklusif untuk kelompok-kelompok, bukan hanya individu. Penyediaan permodalan melalui pembiayaan UMKM KUR dan UMi diharapkan dapat memberikan kemudahan akses bagi pelakuusaha dari sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan.
Dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif, diperlukan integrasi dengan rantai pasok dimana pembiayaan dapat diintegrasikan dengan rantai pasok dari hulu ke hilir. Pengembangan lain yang dapat dilaksankan dengan meningkatkan nilai jual dan stabilitas pendapatan dalam pengolahan pasca panen. Dukungan pembiayaan UMKM dapat diarahkan ke usaha pengolahan pasca panen, misalnya usaha kecil pengolahan kakao, pengemasan produk perikanan, atau pembuatan mebel dari kayu hutan lestari.
Kegiatan ini menambah nilai produk dan menciptakan margin keuntungan yang lebih besar, membuat usaha mereka lebih menarik. Secara keseluruhan, dengan adanya pengembangan ini, usaha mikro, kecil, dan menengah di sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menjadi lebih layak mendapatkan pembiayaan. Hal ini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.












