NASIONAL, Lensainformasi.com – Anggota DPD RI Dapil Sulawesi Tenggara (Sultra), Leni Andriani Surunuddin, kembali menyuarakan kepentingan masyarakat Bumi Anoa dalam Rapat Kerja Komite IV DPD RI bersama Kementerian Investasi/BKPM yang menghadirkan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Dalam forum tersebut, Leni menyoroti potensi besar sektor pertambangan di Sultra yang hingga saat ini masih belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan perekonomian daerah maupun kesejahteraan tenaga kerja lokal.
Menurutnya, Sulawesi Tenggara merupakan salah satu daerah dengan kekayaan sumber daya mineral terbesar di Indonesia. Bahkan, realisasi investasi di Sultra terus menunjukkan tren positif dan telah melampaui target nasional hingga September 2025, terutama dari Penanaman Modal Asing (PMA) di Kabupaten Kolaka dan Konawe.
Keberadaan KEK Konawe dan KEK Kolaka turut menjadi motor penggerak peningkatan investasi tersebut.
Namun, ungkapnya, pertumbuhan investasi belum sepenuhnya memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat sekitar.
“Ekspor tinggi dan aktivitas smelter meningkat pesat. Tetapi dampak terhadap tenaga kerja lokal masih terbatas. Kita membutuhkan peningkatan yang nyata, bukan hanya industri yang berjalan tanpa memikirkan masyarakatnya,” tegas Leni.
Leni juga menyoroti temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang dan smelter di Sultra pada tahun 2023.
Ia menekankan bahwa pemulihan lingkungan harus menjadi prioritas dalam pengembangan hilirisasi mineral.
“Pertumbuhan industri tidak boleh mengabaikan persoalan lingkungan. Kerusakan yang terjadi akan menjadi beban jangka panjang bagi masyarakat dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong hilirisasi lanjutan agar Sultra turut menjadi bagian dari rantai pasok industri global, terutama dalam produksi baterai kendaraan listrik dan teknologi masa depan.
“Sultra harus melangkah lebih jauh. Tidak hanya memproduksi nikel mentah dan produk smelter dasar, tetapi masuk pada industri bernilai tambah tinggi,” jelasnya.
Untuk memastikan keberpihakan pada masyarakat, Leni meminta dukungan Kementerian Investasi dalam memperkuat kemitraan investor dengan masyarakat lokal melalui:
• Peningkatan serapan tenaga kerja lokal
• Penguatan UMKM sekitar kawasan industri
• Program pengembangan masyarakat (community development) yang terarah dan berkelanjutan
“Industri pertambangan harus menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat Sultra, melalui lapangan kerja, peluang usaha, dan peningkatan keterampilan,” tutupnya.
Sementara itu, Wamen Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah mengakselerasi kebijakan Green Smelter menuju Net Zero Emission 2060. Namun, ia mengakui masih terdapat tantangan besar dalam pembiayaan teknologi ramah lingkungan tersebut.
“Tantangan terberat adalah biaya produksi green smelter yang masih sangat tinggi,” ungkap Todotua.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah menyiapkan strategi agar investasi green smelter ke depan dapat lebih efisien. Di akhir pemaparannya, Todotua memuji besarnya potensi sumber daya alam di Sultra.
“Sultra bukan hanya kaya, tapi sangat kaya. Nikel ada, aspal ada, bahkan kayu jati juga ada,” tutupnya.
Melalui komitmen pengawasan aktif yang terus dilakukan Senator Leni Andriani Surunuddin bersama DPD RI, diharapkan pembangunan ekonomi Sulawesi Tenggara dapat terus berkembang tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Bumi Anoa.












