Transaksi Saham di Sultra Tembus Rp373,09 Miliar, OJK Ungkap Minat Investasi Terus Meningkat

KENDARI, Lensainformasi.com – Aktivitas pasar modal di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra mencatat peningkatan jumlah investor di seluruh instrumen investasi, seiring dengan melonjaknya nilai transaksi saham.

Bacaan Lainnya

Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, menyampaikan jumlah Single Investor Identification (SID) mengalami kenaikan pada seluruh instrumen pasar modal, baik saham, reksa dana, maupun Surat Berharga Negara (SBN).

“Pada periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025, jumlah SID di seluruh instrumen investasi menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan,” ujar Bismi Maulana Nugraha saat Bincang Jasa Keuangan bersama insan pers, Sabtu (29/11/2025).

Berdasarkan data OJK, jumlah SID saham meningkat dari 74.763 investor pada Agustus 2024menjadi 97.717 investor pada Agustus 2025, atau tumbuh 43,75 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, SID reksa dana naik dari 26.720 investor menjadi 38.409 investor, atau tumbuh 30,70 persen yoy. Adapun SID SBN bertambah dari 2.161 investor menjadi 2.600 investor, atau meningkat 20,31 persen yoy.

Seiring dengan peningkatan jumlah investor, nilai transaksi saham di Sulawesi Tenggara juga mengalami lonjakan. Pada Agustus 2024, nilai transaksi saham tercatat sebesar Rp123,64 miliar, kemudian meningkat menjadi Rp353,41 miliar pada Desember 2024, dan kembali naik menjadi Rp373,09 miliar pada Agustus 2025.

Dari sisi komposisi investor, pasar modal Sultra masih didominasi oleh instrumen reksa dana dengan porsi 70,44 persen dari total investor. Selanjutnya diikuti saham sebesar 27,69 persen, dan SBNsebesar 1,87 persen.

Menurut Bismi, dominasi reksa dana mencerminkan preferensi masyarakat terhadap instrumen investasi yang relatif lebih mudah diakses dan memiliki tingkat risiko yang terdiversifikasi.

“Pertumbuhan jumlah investor dan nilai transaksi ini menunjukkan meningkatnya literasi serta minat masyarakat Sulawesi Tenggara terhadap pasar modal sebagai alternatif investasi,” jelasnya.

Bismi menegaskan akan terus mendorong penguatan literasi dan inklusi keuangan di sektor pasar modal melalui edukasi berkelanjutan, guna menciptakan investor yang cerdas serta pasar keuangan yang sehat dan berkelanjutan di daerah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *