KENDARI, Lensainformasi.com – Perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat kinerja solid sepanjang tahun 2025 dengan pertumbuhan mencapai 5,79 persen (year on year/yoy).
Capaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Sultra pada 2024 sebesar 5,40 persen (yoy) serta melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen (yoy).
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi, saat kegiatan bincang bareng media di salah satu kafe di Kendari, Senin malam (9/2/2026).
Edwin menjelaskan, pada Triwulan IV 2025, ekonomi Sultra tumbuh 5,94 persen (yoy) dibandingkan Triwulan IV 2024. Dari sisi penawaran, pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan yang tumbuh 17,27 persen (yoy), didorong oleh ekspansi kredit serta meningkatnya transaksi digital.
Selain itu, Lapangan Usaha Akomodasi dan Makan Minum turut tumbuh positif seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penyelenggaraan berbagai ajang nasional. Pertumbuhan ekonomi juga diperkuat oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi akibat meningkatnya aktivitas digital masyarakat.
Meski demikian, kinerja ekonomi masih tertahan oleh pertumbuhan yang lebih rendah pada Lapangan Usaha Pengadaan Air serta Administrasi Pemerintahan.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Sultra ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) melalui pembangunan kawasan industri dan fasilitas pendidikan, serta Konsumsi Rumah Tangga yang tetap terjaga daya belinya.
Namun secara keseluruhan, laju pertumbuhan ekonomi masih tertahan oleh kontraksi pada ekspor besi baja dan meningkatnya impor bahan bakar minyak (BBM).
Pada sisi stabilitas harga, Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulawesi Tenggara pada Januari 2026mencatat inflasi sebesar 0,69 persen (month to month/mtm). Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember 2025 sebesar 0,22 persen (mtm) dan berbeda arah dengan kondisi nasional yang mengalami deflasi sebesar -0,15 persen (mtm).
Edwin menyebutkan, inflasi Januari 2026 terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan serta beberapa komoditas ikan, yakni ikan cakalang, ikan layang, ikan kembung, dan ikan selar.
Kenaikan harga emas dipengaruhi oleh tekanan harga emas global akibat ketidakpastian ekonomi dan instabilitas geopolitik, yang mendorong meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven). Sementara kenaikan harga ikan dipicu oleh penurunan frekuensi melaut nelayan akibat cuaca yang kurang baik dan tinggi gelombang laut di atas 1,5 meter.
Lebih lanjut, Edwin menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Sultra juga didukung oleh pesatnya perkembangan transaksi non tunai, khususnya melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang menjadi game changer dalam sistem pembayaran ritel masyarakat.
Pada Triwulan IV 2025, jumlah pengguna QRIS di Sultra bertambah 31.723 pengguna baru, sehingga total pengguna mencapai 303.254 pengguna, atau tumbuh 12 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara tahunan, jumlah merchant QRIS meningkat 37,65 persen (yoy) menjadi 239.463 merchant, sementara volume transaksi QRIS melonjak 184,61 persen (yoy) menjadi 4.364.680 transaksi.
“Ke depan, kinerja transaksi non tunai melalui QRIS diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan semakin luasnya akseptasi QRIS di Sulawesi Tenggara,” pungkas Edwin.












