Bupati Konsel Apresiasi Gotong Royong Umat Hindu dalam Ngenteg Linggih Pura Eka Sari

KONAWE SELATAN, Lensainformasi.com – Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo, S.Sos., M.Si., menghadiri Upacara Ngenteg Linggih Pura Desa dan Puseh Desa Adat Eka Sari, Jumat, 25 September 2026.

Kegiatan keagamaan umat Hindu tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat Hindu di Desa Adat Eka Sari, sekaligus memperkuat nilai toleransi, kerukunan, gotong royong, serta pelestarian seni dan budaya di Kabupaten Konawe Selatan.

Bacaan Lainnya

Sebelum mengikuti rangkaian acara, Bupati Irham Kalenggo terlebih dahulu meninjau bangunan pura yang menjadi tempat peribadatan umat Hindu di desa tersebut.

Dalam peninjauan itu, Bupati didampingi anggota DPRD Konawe Selatan Nani Kalenggo bersama sejumlah anggota DPRD lainnya, Kepala Dinas Perikanan Konsel, Kepala Badan Riset Daerah Konsel, jajaran Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Konawe Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara, Kapolsek, serta Kepala Desa.

Keberadaan umat Hindu di wilayah tersebut memiliki sejarah panjang. Ketua Panitia I Wayan Sumandra, S.Pd., M.Hum., menjelaskan bahwa keberadaan pura tidak dapat dipisahkan dari kedatangan masyarakat Bali yang mengikuti program transmigrasi ke wilayah tersebut sejak sekitar tahun 1980.

Menurutnya, sejak kedatangan warga Bali, kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Hindu terus berkembang. Hingga akhirnya, melalui semangat gotong royong dan kebersamaan umat, kini telah berdiri pura yang cukup megah dan representatif sebagai tempat peribadatan.

“Keberadaan pura ini tidak terlepas dari sejarah kedatangan warga Bali untuk bertransmigrasi di desa ini sejak tahun 1980. Dari waktu ke waktu umat Hindu terus berkembang dan bersama-sama membangun pura ini hingga bisa berdiri cukup megah seperti sekarang,” ujar I Wayan Sumandra.

Ia mengatakan, keberadaan pura bukan hanya berfungsi sebagai tempat persembahyangan, tetapi juga menjadi pusat pembinaan kehidupan keagamaan, pendidikan, serta pengembangan seni dan budaya Hindu Bali.

Menurutnya, umat Hindu sangat identik dengan tiga hal yang saling berkaitan, yakni ibadah, budaya, dan seni.

Namun, untuk pengembangan bidang seni, khususnya seni tabuh, umat Hindu setempat masih menghadapi keterbatasan sarana.

“Umat Hindu itu identik dengan ibadah, budaya dan seni. Untuk bidang seni, kami sampai saat ini belum memiliki alat musik gamelan khas Hindu Bali,” katanya.

I Wayan Sumandra berharap Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan dapat memberikan dukungan terhadap pengadaan seperangkat gamelan tersebut.

Ia menyebutkan, kebutuhan satu set gamelan Bali diperkirakan mencapai sekitar Rp600 juta.

“Nilainya memang cukup besar, sekitar Rp600 juta untuk satu set gamelan. Kami berharap Pak Bupati bisa membantu kami, sehingga anak-anak dan generasi muda umat Hindu juga bisa mengembangkan seni dan budaya Bali di sini,” harapnya.

Dalam sambutannya pada Upacara Ngenteg Linggih Pura Desa dan Puseh Desa Adat Eka Sari, Bupati Konawe Selatan Irham Kalenggo menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat Hindu, pengurus desa adat, para pemangku, panitia, serta seluruh pihak yang telah bergotong royong menyukseskan pelaksanaan upacara tersebut.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, saya menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh umat sedharma, pengurus desa adat, para pemangku, serta panitia dan seluruh pihak yang telah bekerja sama, bergotong royong, dan berkontribusi dalam menyukseskan pelaksanaan upacara suci ini,” kata Irham.

Bupati menjelaskan, Ngenteg Linggih merupakan salah satu upacara suci dalam agama Hindu yang memiliki makna mendalam, khususnya sebagai bentuk penyucian dan peresmian pelinggih atau bangunan suci pura agar dapat difungsikan sebagai tempat pemujaan umat Hindu.

Menurutnya, pelaksanaan upacara tersebut tidak semata-mata merupakan seremoni keagamaan secara lahiriah, tetapi juga menjadi wujud sradha dan bhakti umat Hindu secara batiniah.

“Pelaksanaan upacara ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan juga merupakan wujud sradha dan bhakti umat Hindu untuk menghadirkan tempat suci yang representatif sebagai tempat sembahyang, tempat pendidikan, serta pelaksanaan seni dan budaya,” ujar Bupati.

Irham menegaskan, Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan akan terus hadir bersama kelembagaan umat dalam memberikan pembinaan dan dukungan terhadap kehidupan keagamaan masyarakat.

“Dalam pelaksanaan fungsi pura ini, tentu Pemerintah Konawe Selatan akan hadir bersama kelembagaan umat untuk memberikan pembinaan menuju umat yang guyub dan rukun,” tegasnya.

Bupati juga menekankan bahwa kerukunan umat beragama, persatuan, dan semangat gotong royong merupakan modal penting dalam pembangunan daerah.

Menurutnya, keberagaman yang ada di Konawe Selatan harus terus dirawat melalui sikap saling menghormati dan menjaga toleransi.

“Mari kita terus menjaga kerukunan antarumat beragama, menghormati perbedaan, memelihara toleransi, serta mengembangkan semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat,” ajaknya.

Ia meyakini persatuan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat akan menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan daerah.

“Dengan persatuan dan kebersamaan, saya yakin berbagai tantangan pembangunan dapat kita hadapi bersama demi terwujudnya Kabupaten Konawe Selatan yang SETARA, Sehat, Cerdas dan Sejahtera,” kata Irham.

Sementara itu, perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Sulawesi Tenggara, Dr. Nyoman, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas perhatian Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan terhadap umat Hindu.

Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap aktivitas keagamaan dan sosial umat Hindu menunjukkan adanya perhatian terhadap kehidupan masyarakat yang beragam.

“Kami menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan atas perhatian dan dukungannya terhadap umat Hindu dalam menjalankan berbagai aktivitas keagamaan dan sosial,” ujar Dr. Nyoman.

Ia juga menyoroti perhatian pemerintah terhadap generasi muda, khususnya mahasiswa dari kalangan umat Hindu yang mendapatkan kesempatan memperoleh bantuan pendidikan melalui program beasiswa SETARA Konsel.

Menurutnya, dukungan pendidikan tersebut memiliki arti penting bagi masa depan generasi muda.

“Kami juga sangat mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap anak-anak kami, khususnya mahasiswa yang mendapatkan beasiswa melalui program Beasiswa SETARA Konsel. Ini tentu sangat membantu dan menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus melanjutkan pendidikan,” katanya.

Rangkaian Upacara Ngenteg Linggih Pura Desa dan Puseh Desa Adat Eka Sari menjadi bagian dari perjalanan panjang umat Hindu di Konawe Selatan dalam mempertahankan kehidupan keagamaan sekaligus melestarikan budaya dan seni Bali.

Bagi masyarakat setempat, keberadaan pura bukan hanya menjadi simbol kehidupan spiritual, tetapi juga ruang untuk membangun kebersamaan, pendidikan keagamaan, serta menjaga keberlanjutan seni dan budaya bagi generasi mendatang.

Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan pun menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kerukunan dan memberikan ruang yang sama bagi seluruh masyarakat dalam menjalankan kehidupan beragama dan kebudayaan.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, keberadaan Pura Desa dan Puseh Desa Adat Eka Sari diharapkan tidak hanya menjadi tempat suci bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan sosial, budaya, dan keberagaman masyarakat Konawe Selatan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *