KENDARI, Lensainformasi.com – Dalam upaya memperkuat sinergi serta memastikan efektivitas pelaksanaan program prioritas pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama seluruh Kepala Cabang Dinas (KCD) serta Kepala Sekolah SMA, SMK, SLB, dan sekolah swasta se-Sultra, Rabu (11/2/2026).
Rakor yang dipimpin langsung oleh Kepala Dikbud Sultra, Prof. Aris, ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi capaian program tahun 2025 sekaligus merumuskan langkah penguatan kebijakan pendidikan pada tahun 2026.
Prof. Aris menegaskan pentingnya fungsi monitoring dan evaluasi secara berjenjang, mulai dari tingkat KCD hingga satuan pendidikan di sekolah.
“Rakor ini juga menjadi media untuk menyampaikan perhatian khusus Bapak Gubernur Sultra dalam mendukung dan menyukseskan program strategis pemerintah pusat di bidang pendidikan,” ujarnya.
Salah satu fokus utama pembahasan adalah Program Sekolah Garuda. Prof. Aris menyoroti masih rendahnya partisipasi sekolah di Sultra dalam program bergengsi tersebut. Hingga saat ini, baru dua sekolah yang masuk tahap persiapan.
Ia mendorong seluruh kepala sekolah agar lebih proaktif dan percaya diri dalam mendaftarkan sekolahnya.
“Ini peluang besar bagi peningkatan mutu pendidikan. Jangan ragu untuk berkompetisi dan menunjukkan potensi terbaik sekolah di Sultra,” tegasnya.
Selain itu, Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi perhatian serius. Dikbud Sultra telah menginstruksikan sekolah melalui KCD untuk membangun sistem pendataan berbasis web guna menghimpun data peserta didik secara komprehensif.
Data tersebut mencakup kondisi kesehatan siswa, seperti fobia, intoleransi, maupun alergi makanan. Seluruh data akan dihimpun oleh PIC sekolah dan diverifikasi oleh tim kesehatan guna mencegah risiko gangguan kesehatan, termasuk potensi keracunan makanan.
Namun demikian, tingkat respons sekolah terhadap survei pendataan masih berkisar 25–30 persen. Prof. Aris menekankan bahwa validitas data merupakan fondasi utama dalam penyusunan kebijakan yang tepat sasaran.
Dalam rakor tersebut juga dibahas implementasi Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program ini diharapkan tidak hanya dijalankan secara administratif, tetapi juga dipadukan dengan nilai-nilai kearifan lokal dan tradisi Sulawesi Tenggara guna memperkuat pembentukan karakter peserta didik.
Aspek kebersihan lingkungan sekolah turut menjadi perhatian. Sambil menunggu regulasi resmi dari Gubernur Sultra, seluruh sekolah diimbau untuk melaksanakan kegiatan pembersihan rutin setiap Selasa dan Jumat.
Menurut Prof. Aris, sekolah tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga harus menjadi contoh dan agen edukasi bagi masyarakat sekitar dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Kebersihan sekolah di Kota Kendari sudah cukup baik. Daerah lain perlu terus ditingkatkan agar tercipta lingkungan belajar yang sehat dan nyaman,” jelasnya.
Sultra juga mencatat capaian membanggakan dalam program revitalisasi sekolah. Provinsi ini menjadi salah satu dari dua provinsi dengan tingkat penyerapan anggaran terbaik secara nasional.
Seluruh laporan pertanggungjawaban dana revitalisasi telah diselesaikan 100 persen tanpa temuan masalah keuangan.
Beberapa proyek strategis yang turut dibahas antara lain pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) di Kolaka dan Wakatobi, serta revitalisasi sekolah di Kolaka Utara dengan nilai anggaran mencapai Rp2,7 miliar.
Di sisi lain, komitmen peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) terus diperkuat melalui program BISMA (Beasiswa Sultra Maju).
Program ini mencakup beasiswa prestasi tingkat nasional dan internasional, serta bantuan pendidikan bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Dikbud Sultra juga menyiapkan siswa, khususnya dari SMK, untuk mengakses peluang beasiswa luar negeri melalui penguatan kompetensi dan kemampuan bahasa asing.
“Seluruh program ini bermuara pada satu tujuan, yakni memajukan SDM dan mengangkat martabat anak-anak Sultra agar kelak kembali berkontribusi membangun daerah,” pungkas Prof. Aris.










