KENDARI, Lensainformasi.com – Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar rapat koordinasi antar pemangku kepentingan dalam rangka membahas program revitalisasi bahasa daerah.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Minggu hingga Selasa, 4–6 Mei 2025, di salah satu hotel di Kota Kendari.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh Kepala Balai Bahasa Sultra, Dewi Pridayanti, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra Yusmin yang mewakili Gubernur Sultra, serta 11 Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara.
Fokus utama kegiatan ini adalah revitalisasi dua bahasa daerah, yakni Bahasa Tolaki dan Bahasa Wolio, yang dinilai mulai mengalami penurunan jumlah penutur.
Kepala Balai Bahasa Sultra, Dewi Pridayanti, menjelaskan bahwa bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya suatu daerah. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong pelestarian bahasa daerah dengan berkolaborasi bersama pemerintah daerah.
“Revitalisasi ini merupakan upaya nyata dalam menjaga eksistensi bahasa lokal. Tahun ini kami fokus pada dua bahasa, yaitu Tolaki yang memasuki tahun kedua revitalisasi, dan Wolio yang tergolong hampir punah,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pemetaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, terdapat 11 bahasa daerah yang tersebar di Bumi Anoa.
Balai Bahasa tidak dapat bekerja sendiri dalam upaya pelestarian ini, sehingga dibutuhkan kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah yang memiliki otoritas langsung di lapangan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra, Yusmin, mengapresiasi langkah Balai Bahasa Sultra dalam menyelenggarakan kegiatan ini.
Menurutnya, pelestarian bahasa daerah sangat penting karena mengandung nilai-nilai budaya, sejarah, dan identitas lokal.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan daerah, mengingat Sulawesi Tenggara telah memiliki dasar hukum berupa Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2021 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra daerah.
“Bahasa daerah adalah jendela budaya. Jika tidak digunakan, maka akan tergerus zaman. Kita harus memastikan bahwa bahasa daerah tetap hidup di tengah masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.
Yusmin berharap melalui kegiatan revitalisasi ini, bahasa Tolaki dan Wolio bisa kembali dituturkan secara luas di masyarakat.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk menghidupkan kembali warisan budaya daerah, seperti cerita rakyat, lagu tradisional, dan seni lokal lainnya, sebagai bagian dari penguatan karakter dan pelestarian jati diri daerah.












