OJK Menilai Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global

JAKARTA, Lensainformasi.com — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga meskipun dinamika perekonomian global dan volatilitas pasar keuangan meningkat. Hal ini disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 30 April 2025.

Plt. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, menyampaikan dalam siaran pers yang diterima media ini pada Senin (12/5/2025), bahwa ketidakpastian global, khususnya terkait kebijakan perdagangan, menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi pasar.

Bacaan Lainnya

“Perkembangan April 2025 didominasi oleh meningkatnya ketidakpastian akibat rencana pengenaan tarif impor resiprokal oleh Amerika Serikat. Meskipun Presiden Trump menunda pemberlakuannya selama 90 hari, tensi perdagangan AS-Tiongkok tetap tinggi dan berkontribusi terhadap gejolak di pasar keuangan global,” ujar Ismail.

Ketidakpastian ini mendorong lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO untuk merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 hanya sebesar 2,8 persen, jauh di bawah rata-rata historis sebesar 3,7 persen.

WTO juga merevisi proyeksi volume perdagangan barang global pada 2025 menjadi kontraksi sebesar 0,2 persen (yoy), dari sebelumnya diperkirakan tumbuh 2,7 persen.

Di Amerika Serikat, meski indikator ketenagakerjaan masih solid, beberapa indikator ekonomi menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan turun menjadi 1,4 persen dari sebelumnya 2 persen.

Pasar juga mulai memperkirakan pemangkasan suku bunga acuan (FFR) lebih agresif, dengan potensi penurunan pertama pada Juni 2025.

Sementara itu, ekonomi Tiongkok menunjukkan pertumbuhan positif pada triwulan I-2025, terutama berkat sektor manufaktur yang kuat dan strategi front-loading ekspor dalam mengantisipasi tarif tambahan dari AS.

Dari sisi permintaan domestik, terdapat indikasi perbaikan melalui kenaikan inflasi inti dan penjualan ritel.

Di dalam negeri, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87 persen pada triwulan I-2025, didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga. Inflasi headline pada April 2025 tercatat sebesar 1,95 persen (yoy), dan inflasi inti stabil di level 2,50 persen (yoy), mencerminkan permintaan domestik yang relatif stabil.

Indikator lain seperti penjualan ritel, konsumsi semen, dan kendaraan bermotor mengindikasikan proses pemulihan yang masih berlangsung, meski dengan kecepatan moderat.

Dari sisi produksi, kinerja ekspor dan neraca perdagangan tetap kuat. Selain itu, laporan keuangan emiten menunjukkan hasil yang lebih baik pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan kondisi tersebut, OJK memastikan akan terus memantau perkembangan global dan domestik secara cermat guna menjaga stabilitas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *