Pasar Modal Domestik Menguat di Tengah Tekanan Global, Didukung Sinergi Kebijakan OJK dan Pemangku Kepentingan

JAKARTA, Lensainformasi.com — Pasar modal Indonesia menunjukkan kinerja positif sepanjang April 2025, meskipun pasar keuangan global sempat tertekan akibat pengumuman kebijakan tarif dagang oleh Amerika Serikat.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat sebesar 3,93 persen secara month to date(mtd) ke level 6.766,8, meski secara year to date (ytd) masih mencatat pelemahan sebesar 4,42 persen.

Bacaan Lainnya

Plt. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, dalam siaran pers yang diterima Senin (12/5/2025), menyebut bahwa penguatan ini didukung oleh langkah-langkah koordinatif OJK bersama seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, forum KSSK, Self Regulatory Organization (SRO), dan pelaku pasar, dalam meredam volatilitas pasar.

Nilai kapitalisasi pasar per 30 April 2025 tercatat sebesar Rp11.705 triliun atau naik 5,20 persen (mtd), meski masih menurun 5,11 persen secara ytd. Sementara itu, investor non-residen mencatatkan net sellsebesar Rp20,79 triliun secara mtd dan Rp50,72 triliun secara ytd.

Secara sektoral, mayoritas indeks sektor mencatat penguatan, dengan sektor basic material dan healthcare memimpin kenaikan. Sektor teknologi menjadi satu-satunya yang mengalami pelemahan.

Dari sisi likuiditas, rata-rata nilai transaksi harian pasar saham sepanjang tahun 2025 mencapai Rp12,47 triliun, naik dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebesar Rp12,34 triliun.

Di pasar obligasi, Indeks Harga Obligasi ICBI menguat 1,61 persen (mtd) dan 3,39 persen (ytd) ke level 405,99. Yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata turun sebesar 15,53 basis poin (bps) secara mtd dan 17,26 bps secara ytd. Investor non-residen mencatatkan net buy sebesar Rp7,79 triliun (mtd) dan Rp23,02 triliun (ytd). Sementara itu, di pasar obligasi korporasi, tercatat net sell non-residen sebesar Rp0,01 triliun (mtd) dan Rp1,42 triliun (ytd).

Di sektor pengelolaan investasi, nilai Asset Under Management (AUM) tercatat sebesar Rp821 triliun per 30 April 2025, tumbuh 1,01 persen secara mtd namun menurun 1,96 persen ytd. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp502,10 triliun, naik 1,66 persen (mtd) dan 0,57 persen (ytd), meskipun tercatat net redemption sebesar Rp6,24 triliun (mtd) dan Rp4,88 triliun (ytd).

Penghimpunan dana di pasar modal tetap berada dalam tren positif, dengan nilai Penawaran Umum mencapai Rp56,06 triliun, termasuk Rp3,31 triliun dari enam emiten baru. Saat ini terdapat 85 pipelinePenawaran Umum dengan nilai indikatif sekitar Rp70,54 triliun.

Untuk penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF), sejak implementasi ketentuan hingga 30 April 2025 telah terdapat 18 penyelenggara berizin dengan total 805 penerbitan Efek dari 510 penerbit, 179.363 investor, dan dana yang teradministrasi di KSEI mencapai Rp1,53 triliun.

Di pasar derivatif keuangan, sejak 10 Januari hingga 30 April 2025, telah tercatat 56 pelaku dan 6 penyelenggara yang memperoleh izin prinsip dari OJK. Volume transaksi derivatif berbasis efek mencapai 1,13 juta lot dengan akumulasi nilai transaksi sebesar Rp1.050,58 triliun.

Sementara itu, pada Bursa Karbon yang diluncurkan sejak 26 September 2023, hingga akhir April 2025 tercatat 112 pengguna jasa berizin, dengan total volume perdagangan mencapai 1.598.750 tCO2e dan nilai transaksi sebesar Rp77,92 miliar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *