KENDARI, Lensainformasi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melaporkan bahwa kinerja industri perbankan di wilayah tersebut mencatatkan pertumbuhan positif di triwulan pertama (Januari-Maret) tahun 2025.
Hal ini terlihat dari peningkatan aset, kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara tahunan (year on year/yoy), Sabtu (21/6).
Tercatat, aset perbankan tumbuh 6,14% yoy menjadi Rp48,96 triliun, kredit naik sebesar 12,51% yoy mencapai Rp40,96 triliun, dan DPK meningkat sebesar 3,22% yoy menjadi Rp32,07 triliun.
Sementara secara year to date (ytd), aset mengalami penurunan sebesar 4,77% dan DPK turun 0,91%, namun kredit tetap tumbuh positif sebesar 0,86%.
Tingkat intermediasi perbankan di Sultra juga menunjukkan kinerja yang kuat dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 127,57%.
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 1,76%, berada dalam batas yang aman dan sehat secara industri.
DPK Didominasi Tabungan, Kredit Tersalur Terbesar ke Konsumsi
Struktur portofolio Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan Sultra per Maret 2025 menunjukkan dominasi pada produk tabungan dengan nilai mencapai Rp21,44 triliun atau sekitar 66% dari total DPK. Sementara itu, giro dan deposito masing-masing menyumbang 17,6% dan 16,4%.
Dari sisi kredit, penyaluran kredit di Sultra paling banyak disalurkan untuk keperluan konsumtif dengan nilai Rp22,74 triliun atau 55,6% dari total kredit. Kredit untuk modal kerja dan investasi masing-masing mencatatkan porsi sebesar 28,8% dan 15,6%.
Rumah Tangga Multiguna Jadi Sektor Penyerap Kredit Terbesar
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit perbankan hingga Maret 2025 didominasi oleh sektor Rumah Tangga Multiguna dengan porsi 38,3% atau senilai Rp15,5 triliun. Disusul oleh sektor Perdagangan (18,2%), Kepemilikan Rumah Tinggal (14,5%), Pertanian (8,7%), dan Pertambangan (4,6%).
Untuk sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), total kredit yang tersalur mencapai Rp14,8 triliun atau 36,1% dari total kredit. Penyaluran kredit UMKM paling banyak mengalir ke segmen Mikro dengan kontribusi 58,5% atau sebesar Rp8,6 triliun, diikuti kredit Kecil (32,6%) dan Menengah (8,9%).
Kinerja ini mencerminkan upaya berkelanjutan perbankan di Bumi Anoa dalam mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan akses pembiayaan yang inklusif dan berkualitas, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan di tingkat daerah.












