NASIONAL, Lensainformasi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) tetap terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya tekanan inflasi.
Penilaian tersebut disampaikan dalam hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 1 Juli 2026.
OJK menjelaskan, perkembangan terkini ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah membantu mengurangi tekanan di pasar energi global. Kondisi tersebut tercermin dari harga minyak yang kembali mendekati level sebelum konflik serta berkurangnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Meski demikian, OJK mengingatkan bahwa risiko geopolitik masih perlu dicermati karena stabilitas kawasan tetap rentan terhadap potensi eskalasi baru.
Di sisi lain, indikator perekonomian global menunjukkan hasil yang berada di atas ekspektasi pasar, meskipun terjadi divergensi pertumbuhan antarnegara di tengah meningkatnya tekanan inflasi.
Amerika Serikat dinilai masih menunjukkan ketahanan ekonomi dengan pasar tenaga kerja yang solid, meski inflasi mengalami kenaikan. Sementara itu, Tiongkok masih menghadapi lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta. Di Eropa, aktivitas ekonomi masih tertahan akibat permintaan yang lemah, meskipun sektor manufaktur mulai menunjukkan perbaikan.
Pada Juni 2026, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan World Bank merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi masing-masing 2,8 persen dan 2,5 persen. Proyeksi tersebut masih berpotensi menurun apabila konflik geopolitik kembali meningkat atau gangguan pasokan komoditas energi berlangsung lebih lama.
Menurut OJK, prospek pertumbuhan ekonomi global masih dibayangi lemahnya permintaan dunia, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta meningkatnya prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer). Kondisi tersebut turut memengaruhi selera risiko (risk appetite) investor global di pasar keuangan.
Di dalam negeri, indikator perekonomian menunjukkan moderasi di tengah mulai meningkatnya tekanan inflasi. Indeks PMI manufaktur mengalami pelemahan, surplus neraca perdagangan menyempit, dan cadangan devisa menurun.
Meski demikian, OJK menilai stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga berkat bauran kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan pemerintah dan otoritas terkait.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, OJK menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga, didukung oleh meredanya tekanan eksternal serta respons kebijakan yang dinilai memadai.












