JAKARTA, Lensainformasi.com — Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 mengungkapkan kesenjangan literasi dan inklusi keuangan antara kelompok masyarakat.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Friderica Widyasari Dewi, dan Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, di Kantor BPS, Jakarta, Jumat (2/5/2025).
Wilayah perkotaan mencatat indeks literasi dan inklusi keuangan yang lebih tinggi, masing-masing 70,89 persen dan 83,61 persen, dibandingkan wilayah perdesaan yang hanya 59,60 persen dan 75,70 persen.
Dari sisi gender, laki-laki tercatat memiliki tingkat literasi lebih tinggi (67,32 persen) dibanding perempuan (65,58 persen), meski indeks inklusi keduanya hampir seimbang.
Kelompok berpendidikan tinggi seperti lulusan perguruan tinggi menunjukkan tingkat literasi tertinggi (90,63 persen) dan inklusi hingga 99,10 persen, jauh di atas kelompok berpendidikan rendah.
Hasil ini memperkuat pentingnya strategi literasi dan inklusi yang menyasar kelompok perempuan, warga desa, serta masyarakat berpendidikan rendah dalam rangka mewujudkan pemerataan akses keuangan nasional.












