Kredit UMKM Naik Jadi Rp15,27 Triliun, OJK Sultra Dorong Penguatan Sektor Produktif

KENDARI, Lensainformasi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus menunjukkan pertumbuhan positif pada awal tahun 2026.

Hal tersebut disampaikan Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, saat menggelar media briefing triwulan I sekaligus rapat koordinasi Satgas PASTI di Gedung Learning Center OJK Sultra, Kamis (5/3/2026).

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data OJK, total penyaluran kredit UMKM pada Januari 2026 mencapai Rp15,27 triliun, tumbuh 4,73 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode Januari 2025 yang tercatat sebesar Rp14,58 triliun.

Sementara itu, pada Desember 2025 kredit UMKM sempat berada di posisi Rp15,40 triliun, sebelum berada pada angka Rp15,27 triliun pada Januari 2026.

Dari sisi kualitas kredit, rasio Non Performing Loan (NPL) UMKM tercatat mengalami peningkatan. Pada Januari 2026, NPL UMKM berada di level 1,32 persen, naik dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 1,13 persen serta Desember 2025 yang berada di angka 1,25 persen.

OJK juga mencatat porsi penyaluran kredit UMKM terhadap total kredit perbankan di Sulawesi Tenggara mencapai 35,29 persen pada Januari 2026.

Selain itu, berdasarkan jenis penggunaan kredit, komposisi penyaluran kredit perbankan di Bumi Anoa masih didominasi oleh kredit konsumsi.

Data OJK menunjukkan pada Januari 2026, kredit konsumsi mencapai Rp24,36 triliun, meningkat 8,1 persen (yoy) dibandingkan Januari 2025 yang tercatat sebesar Rp22,53 triliun.

Sementara itu, kredit investasi tercatat sebesar Rp7,04 triliun atau tumbuh sekitar 11 persen (yoy)dibandingkan Januari 2025 yang sebesar Rp6,34 triliun.

Di sisi lain, kredit modal kerja tercatat sebesar Rp11,11 triliun pada Januari 2026, mengalami penurunan 4,79 persen (yoy) dibandingkan Januari 2025 yang mencapai Rp11,65 triliun.

Secara komposisi, pangsa kredit berdasarkan jenis penggunaan pada Januari 2026 didominasi oleh kredit konsumsi sebesar 57,30 persen, diikuti kredit modal kerja 26,13 persen, dan kredit investasi 16,57 persen.

Bismi menjelaskan dominasi kredit konsumsi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan penyaluran kredit pada sektor produktif.

“Komposisi kredit masih didominasi sektor konsumsi sebesar 57,30 persen, sehingga perlu akselerasi penyaluran pada sektor produktif seperti modal kerja dan investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi riil,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *