KENDARI, Lensainformasi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat kinerja industri perbankan di wilayah Bumi Anoa tetap menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026.
Hal tersebut disampaikan Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, saat menggelar media briefing triwulan I sekaligus rapat koordinasi Satgas PASTI di Gedung Learning Center OJK Sultra, Kamis (5/3/2026).
Bismi mengungkapkan, pertumbuhan industri perbankan di Sulawesi Tenggara tetap ekspansif dengan peningkatan sejumlah indikator utama, baik dari sisi aset, dana pihak ketiga (DPK), maupun penyaluran kredit.
Berdasarkan data per Januari 2026, total aset perbankan di Sultra tercatat mencapai Rp61,68 triliun, tumbuh 6,5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini meningkat dibandingkan Januari 2025 yang tercatat sebesar Rp57,91 triliun.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perbankan mencapai Rp33,64 triliunpada Januari 2026 atau tumbuh 5,9 persen (yoy) dibandingkan Januari 2025 sebesar Rp31,67 triliun.
Di sisi penyaluran kredit, perbankan di Sulawesi Tenggara juga menunjukkan peningkatan. Hingga Januari 2026, total kredit yang disalurkan mencapai Rp42,59 triliun, atau tumbuh 5,1 persen (yoy)dibandingkan Januari 2025 yang berada pada posisi Rp40,52 triliun.
Secara bulanan, perkembangan perbankan juga menunjukkan tren positif. Pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026, aset perbankan meningkat 1,79 persen, DPK naik 1,44 persen, dan kredit tumbuh 4,25 persen.
Sementara secara year to date (ytd) Januari 2026, pertumbuhan aset tercatat 0,41 persen, DPK 3,06 persen, dan kredit 3,93 persen.
Dari sisi kualitas kredit, rasio Non Performing Loan (NPL) perbankan Sultra pada Januari 2026 berada di level 2,10 persen, meningkat dibandingkan Januari 2025 sebesar 1,76 persen dan Desember 2025 sebesar 1,94 persen, namun masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator.
Di sisi likuiditas, indikator Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 126,59 persen pada Januari 2026. Angka ini menurun dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 129,04 persen, namun lebih tinggi dibandingkan Januari 2025 yang berada pada posisi 127,58 persen.
Bismi menegaskan, secara umum kinerja perbankan di Sulawesi Tenggara tetap berada dalam kondisi stabil dan tumbuh positif.
“Kinerja perbankan tetap ekspansif dengan pertumbuhan aset 6,5 persen (yoy), didorong oleh penguatan DPK sebesar 5,9 persen (yoy) serta penyaluran kredit yang tumbuh 5,1 persen (yoy),” ujarnya.
Ia menambahkan, rasio kredit bermasalah masih terjaga pada level yang relatif aman.
“Rasio NPL berada di level 2,10 persen, masih di bawah threshold, didukung oleh perbaikan indikator likuiditas serta peningkatan LDR ke posisi 126,59 persen,” pungkasnya.












